CONTACT: Nazly Sobhi Damasio,

#GarmentMeToo: Women Garment Workers Demand an End to Gender Based Violence Across the Global Garment Supply Chain

Today, Global Labor Justice and Asia Floor Wage Alliance announces the launch of a new global campaign, #GarmentMeToo. The campaign is a transformative vision of work that centers the dignity and economic security of women workers led by women trade union leaders in order to win concrete solutions and contribute to  new international labor standards and ultimately create power building roles for supplier unions, allied unions, women’s organizations, human rights organizations, and consumers in brand supplier producing and retail countries. The purpose of the campaign is to target the supply chains of garment apparel brands in order to bring brands and their suppliers to the table with supplier unions to bargain and create changes on production lines at the industrial level as well as along global supply chains.  

In the #MeToo era, women led organizing is emerging worldwide in fields, factories, and boardrooms towards the goal of gender equity and inclusion and pushing back against violence against women. At its centennial anniversary, the International Labor Organization is undertaking international standard setting on Gender Based Violence.  “Through the Garment Me Too Campaign, garment women worker leaders and their allies expose serious exploitation and then put forward innovative proposals for transformative global supply chains which create decent work, social justice, and a future of work that empowers women,” says Jennifer (JJ) Rosenbaum, U.S. Director of Global Labor Justice.

At this key moment, garment brands who have women dominated global supply chains must also act on their responsibility to improve conditions for women workers in their global supply chains in collaboration with the worker organizations that those women lead, including preventing gender-based violence and harassment.

Brands have shown time and again that they are not invested in creating economic stability and ensuring a workplace that is free from gender-based violence for their workers along their global supply chains. Corporate social responsibility programs and audits distract from the necessary structural changes that corporations need to make in order to shift pressures that require high production targets with low costs that often lead to gender-based violence.

Instead, corporations must work with and follow the lead of women-led worker organizations driving change along global garment supply chains.

Anannya Bhattacharjee, secretariat of Asia Floor Wage Alliance says,The Garment Me Too campaign spotlights the torturous gender-based violence that garment women workers face daily in supplier factories across Asia. When women workers in precarious poverty-level jobs speak up they face immediate retaliation and backlash. If fashion brands are serious about commitments to women’s empowerment they and their suppliers should work, locally and regionally, with the Asia Floor Wage Alliance Women’s Leadership Committee (AFWA-WLC) — composed of women garment worker leaders across Asia — to change conditions in the factories immediately.”

Women and trade union leaders who work on the global supply chains day in and day out know the problems — and they know the solutions to addressing the issues. Women garment workers have been organizing to bring major brands and suppliers to the table in order to create a new standard across global supply chains that demands a woman’s right to work with dignity, earn a living wage, freedom from gender based violence and the ability to join and lead worker organizations so they can provide for their families, be successful and thrive within their communities.

“Global capitalism has caused the prevalence of gender based violence that haunts women garment workers daily within brand supplier factories.  With the #GarmentMeToo campaign, women garment workers are able to fight against gender based violence and demand that brands be held responsible and improve the working conditions within their supplier factories. This campaign will help break the stigma that women are weak and not capable of fighting back against the violence they face but instead fighting to create a workplace that empowers women. It is also crucial for brands to take gender based violence cases seriously and work together with women garment workers and trade unions to find the best solutions for them,” says Sumiyati Nama, a leader within the Serikat Pekerja Nasional Workers Union in Indonesia.

Innovative leadership helmed by garment workers and trade unionists will be able to enforce strong regulations, like the proposed ILO Convention, and other regional agreements through bargaining that would reach across borders in order to tackle gender-based violence and harassment along global supply chains and promote economic stability between brands, suppliers and trade unions at the local and international level.

The women trade union leaders in the Asia Floor Wage Alliance (AFWA) that represent thousands of women garment workers in India, Sri Lanka, Indonesia and Cambodia, with members producing clothes for H&M, Gap, Walmart, Nike and other well-known brands that global consumers continue to wear are leading organizing efforts to create these changes across global garment supply chains.




Global Labor Justice (GLJ) is a US based strategy hub supporting transnational collaboration among worker and migrant organizations to expand labor rights and new forms of bargaining on global value chains and international labor migration corridors.

Asia Floor Wage Alliance (AFWA) was officially formed in 2006 and includes more than 76 organizations, including garment industry trade unions, NGOs, consumer groups and research institutes from more than 17 countries from across Asia, Europe and North America.



Bahasa Version:


Kontak: Nazly Sobhi Damasio, 312.687.8360,

#GarmentMeToo: Buruh Garmen Perempuan Menuntut Dihentikannya Kekerasan Berbasis Gender di Seluruh Rantai Pasokan Garmen Global

Hari ini, Global Labor Justice (GLJ) dan Asia Floor Wage Alliance (AFWA) mengumumkan dimulainya kampanye global #GarmentMeToo. Kampanye ini merupakan visi transformasi kerja yang berpusat pada martabat dan jaminan ekonomi buruh/pekerja perempuan yang dipimpin oleh pemimpin perempuan serikat buruh/pekerja untuk mendapatkan solusi nyata dan sebagai bentuk sumbangsih pada standar perburuhan internasional yang baru dan terutama untuk membangun kekuatan serikat buruh/pekerja di tingkat pabrik, aliansi serikat buruh/pekerja, organisasi perempuan, organisasi hak asasi manusia, dan para konsumen di negara-negara tempat para pemilik merek memproduksi dan menjual produknya. Kampanye ini menyasar rantai pasok para pemilik merek garmen dengan tujuan membawa para pemilik merek dan suplier duduk satu meja dengan serikat buruh/pekerja di tingkat pabrik untuk merundingkan dan menciptakan perubahan di lini produksi pada tingkat sektor industri dan juga di sepanjang rantai pasokan global.

Pada masa gerakan #MeToo, pengorganisasian yang dipimpin perempuan muncul secara luas di seluruh dunia di lapangan, di pabrik, dan di ruang dewan direksi untuk mencapai tujuan keadilan gender dan inklusi dan melawan kekerasan terhadap perempuan. Pada peringatan 100 tahun berdirinya organisasi perburuhan internasional ILO, organisasi ini berupaya menetapkan standar internasional mengenai Kekerasan Berbasis Gender. “Melalui Kampanye ‘Garment Me Too’ ini, pemimpin perempuan buruh/pekerja garmen dan organisasi aliansinya mengungkapkan betapa seriusnya praktik penghisapan yang terjadi dan mengajukan usulan-usulan perubahan yang inovatif pada rantai pasok global untuk mencapai kerja layak, keadilan sosial, dan praktik kerja di masa depan yang memajukan perempuan,” kata Jennifer (JJ) Rosenbaum, Direktur Global Labor Justice di Amerika.

Pada peristiwa penting ini, para pemilik merek garmen dimana rantai pasokannya didominasi oleh perempuan, harus mengambil tindakan sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk memperbaiki kondisi kerja perempuan yang berada di rantai pasok mereka dengan bekerja bersama organisasi pekerja yang dipimpin oleh perempuan, termasuk untuk mencegah kekerasan dan pelecehan berbasis gender.

Para pemilik merek telah memperlihatkan berulang kali bahwa mereka tidak melakukan investasi yang menciptakan stabilitas ekonomi dan kepastian tempat kerja yang bebas dari kekerasan berbasis gender bagi para buruh/pekerjanya di sepanjang rantai pasokan mereka. Program tanggung jawab sosial perusahaan dan audit mengalihkan persoalan mengenai pentingnya dilakukan perubahan struktural oleh perusahaan untuk mengubah tekanan target produksi yang tinggi dan biaya produksi yang rendah yang seringkali mengakibatkan kekerasan berbasis gender. Seharusnya, perusahaan bekerjasama dan mengikuti arahan pemimpin serikat buruh/pekerja perempuan untuk mendorong terjadinya perubahan di rantai pasok garmen global.

Anannya Bhattacharjee dari sekretariat Asia Floor Wage Alliance mengatakan, “Kampanye Garment Me Too menyoroti kekerasan berbasis gender yang menyiksa buruh/pekerja garmen perempuan di pabrik-pabrik setiap hari. Ketika buruh/pekerja garmen yang menjalani pekerjaan yang terus memiskinkan mereka bersuara, mereka mengalami tindakan balas dendam dan serangan balik. Jika para pemilik brand fashion serius mengenai komitmen untuk memajukan perempuan, mereka dan para supliernya harus bekerja di tingkat lokal dan regional dengan Komite Pemimpin Perempuan AFWA – yang terdiri dari pemimpin pekerja perempuan di Asia – untuk mengubah kondisi di pabrik dengan segera.”

Perempuan dan pemimpin serikat buruh/pekerja yang berada di rantai pasokan global setiap hari mengetahui persoalan yang terjadi di tempat kerjanya–dan mereka tahu solusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Buruh/pekerja garmen perempuan telah mengorganisir diri untuk membawa para pemilik merek dan suplier ke meja perundingan untuk merumuskan standar baru yang memastikan hak perempuan untuk bekerja secara bermartabat, mendapatkan upah secara layak, terbebas dari kekerasan berbasis gender dan memampukan perempuan untuk bergabung dan memimpin organisasi buruh/pekerja sehingga mereka dapat menghidupi keluarganya, menjadi orang yang berhasil dan terus maju di masyarakat.

“Kapitalisme global telah mengakibatkan semakin masifnya kekerasan berbasis gender yang menghantui buruh/pekerja garmen perempuan setiap hari di pabrik-pabrik yang memproduksi barang untuk para pemilik merek. Melalui kampanye #GarmentMeToo, buruh/pekerja garmen perempuan dapat melawan kekerasan berbasis gender dan menuntut para pemilik merek untuk bertanggung jawab dan memperbaiki kondisi kerja di pabrik-pabrik supliernya. Kampanye ini dapat memutus stigma bahwa perempuan lemah dan tidak mampu untuk melawan kekerasan yang mereka alami dan melakukan perlawanan untuk menciptakan tempat kerja yang memajukan perempuan. Penting bagi para pemilik merek untuk memberikan perhatian serius pada kasus-kasus kekerasan berbasis gender dan bekerja bersama buruh perempuan dan serikat buruh/pekerja untuk mencari solusi terbaik bagi mereka,” jelas Sumiyati dari DPP Serikat Pekerja Nasional di Indonesia.

Kepemimpinan yang inovatif oleh buruh/pekerja garmen dan pemimpin serikat akan dapat menegakkan peraturan yang kuat, seperti Konvensi ILO yang diusulkan, dan perjanjian regional lainnya melalui perundingan yang dapat menembus lintas batas untuk menyelesaikan persoalan kekerasan dan pelecehan berbasis gender di sepanjang rantai pasokan dan memajukan stabilitas ekonomi di antara para pemilik brand, suplier, dan serikat buruh/pekerja di tingkat lokal dan internasional.

Para perempuan pemimpin serikat pekerja di AFWA yang mewakili ribuan buruh garmen di India, Srilangka, Indonesia dan Kamboja yang memproduksi pakaian untuk H&M, Gap, Walmart, Nike dan merek-merek terkenal lainnya yang digunakan oleh konsumen global, memimpin upaya pengorganisasian untuk menciptakan perubahan-perubahan ini di sepanjang rantai pasokan garmen global.




Global Labor Justice (GLJ) adalah Jaringan strategis di Amerika yang memberikan dukungan pada kerjasama transnasional antar buruh dan organisasi migran untuk memajukan hak buruh dan bentuk-bentuk perundingan baru di rantai pasok global dan koridor migrasi pekerja internasional (

Asia Floor Wage Alliance (AFWA) secara resmi terbentuk pada 2006 yang beranggotakan lebih dari 76 organisasi dari serikat buruh/pekerja garmen, NGO, kelompok konsumen dan lembaga penelitian dari 17 negara di Asia, Eropa dan Amerika Utara.